Dumb?
FanFiction
Author : Park Sang Soon (Umirin
Mauludhiah)
Cast : Cho Kyuhyun | Victoria Song (Song Qian)
Genre : Romance, Fluff
Rated : PG 13+
Sequel of Unpredicted
Kyuhyun apartment’s
Victoria
menggulingkan tubuhnya ke bagian kanan ranjang. Tangan lentiknya yang bebas
menyusuri setiap sisi ranjang yang ditempatinya untuk tidur. Hidung runcingnya
mendengus beberapa kali. Ada sesuatu yang aneh. Dia tidak menemukan Kyuhyun
disampingnya. Padahal dia masih sangat ingat bahwa dia tidur bersama Kyuhyun
tadi malam. Gadis itu membuka mata bulatnya perlahan. Dan dengan malas dia
merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Dan, benar saja. Dia tidak menemukan
Kyuhyun disana.
“Kyu....”
panggilnya lirih. Lima detik dia menunggu. Tidak ada jawaban. Itu ber-arti
Kyuhyun sudah keluar dari kamarnya. Atau bisa jadi kekasihnya itu sudah berada
di perjalanan menuju kantor. Dengan setengah hati akhirnya Victoria memutuskan
untuk beranjak dari ranjangnya. Berjalan keluar dari kamar dan mencoba untuk
mencari Kyuhyun di sisi lain apartment. Dia mengedarkan pandangannya. Tidak
menemukan sosok Kyuhyun. Dia kembali melangkahkan kakinya. Kali ini lebih
pelan. Dan tepat tiga langkah setelah itu. Sebuah suara yang sangat familiar
mencapai telinganya.
“kau sudah
bangun?” tanya Kyuhyun retoris. Namun, tetap saja pertanyaan retoris itu masih
dijawab oleh Victoria. Bahkan dengan sebuah senyuman. Lebih tepatnya, senyuman
yang hanya bertahan beberapa detik saja. Karena setelah itu Victoria
mengerutkan keningnya. Rapi. Hal pertama yang gadis itu tangkap dari Kyuhyun
pagi ini. Celana katun press berwarna dark blue. Dan kemeja putih yang masih halus. Serta
dasi polos berwarna abu-abu.
“kau
sudah akan pergi?” tanya Victoria dengan suara lemahnya. Dan suara itu, membuat
Kyuhyun yang kini tengah berdiri di depan cermin untuk mengenakan dan merapikan
jas kerjanya, terhenti seketika. Dia tidak kuasa mendengar suara lemah itu.
Membuatnya tidak tega untuk pergi menjauh dari Victoria. Sekalipun itu hanya
dalam waktu tiga detik. Namun, bukankah itu semua untuk kebaikan kedepannya?
Kebaikan untuk mereka berdua yang sudah Kyuhyun rancang sejak mereka bertemu
kembali.
“Kyu…..”
seperti tersengat oleh ribuan volt listrik, Kyuhyun langsung tersadar dari
lamunannya. Kini Victoria tengah membantunya untuk sekedar mengenakan jas
kerjanya yang tadi belum selesai ia pakai. Dan saat itu, dia melihat jemari
Victoria yang bergetar ketika membenarkan posisi jas kerjanya. Dia hanya
menatapnya. Tidak ada niat untuk meraihnya. Karena dia tahu, dia tidak akan mau
melepasnya setelah dia berhasil menggenggamnya.
“ambilah
istirahat ketika kau lelah” ujar Victoria yang diiringi dengan senyuman
hangatnya. Yang membuat kekasihnya juga ikut mengembangkan seulas senyuman
cerah. “aku akan pulang awal hari ini” ucap Kyuhyun sembari mengelus leher
jenjang Victoria yang bebas. Bukannya mendapat respon yang baik, Kyuhyun justru
mendapat tatapan aneh dari wajah Victoria. Gadis itu tidak mengerti. Dia sangat
yakin bahwa Kyuhyun bukan seseorang yang akan meluangkan waktu untuk
meninggalkan pekerjaannya yang jauh lebih penting. Dan selama ini, Victoria
menerimanya. Tanpa ada keluhan sedikitpun. Namun, hal yang barusan Kyuhyun ucapkan
adalah hal yang mungkin belum pernah ia dengar.
“
aku pergi” singkat. Hanya sebuah kecupan ringan di kening yang diberikan
Kyuhyun sebelum dia mulai melangkah pergi dan melambaikan tangan pada Victoria.
Gadis itu bahkan sudah cukup kelimpungan hanya dengan perlakuan dari Kyuhyun,
yang jujur saja sudah menjadi rutinitasnya jika ia bermalam di apartment
Kyuhyun. Namun tetap saja, sekalipun perlakuan itu Kyuhyun lakukan
berkali-kali, tidak pernah bisa membuat Victoria bosan.
**
Victoria’s office
Gadis
itu menatap kalender yang terpajang di meja kerjanya dengan lekat. Lima jemari
kanannya mengetuk-ngetuk permukaan kalender yang cukup keras. Sementara tangan
kirinya digunakannya untuk tumpuan dagu runcingnya. Bibir merah mudanya
membentuk kerucut hingga membuatnya terlihat malas. Tentu saja malas. Karena
dia sendiri bahkan merutuki dirinya sendiri yang selalu lupa akan sesuatu
ketika di depan Kyuhyun. Bahkan dia dibuat luluh hanya dengan kecupan ringan
yang selalu diberikan kekasihnya itu setiap pagi.
“seharusnya
dia ingat bahwa hari ini aku berulang tahun. Kekasih macam apa dia” cibirnya
dengan bibir yang masih membuat kerucut. Mengingatnya? Mungkin itu adalah
sesuatu yang mustahil. Bukan karena Kyuhyun adalah orang yang pelupa. Justru
Kyuhyun adalah orang yang sangat teliti dan tidak pernah melupakan hal sekecil
apapun. Namun, kesibukan adalah satu alasan paling logis yang membuat Kyuhyun
tidak mengingat ulang tahun Victoria. Jika Victoria tidak menginap di
apartmentnya dia akan bermalam di kantor, namun jika Victoria bermalam di
apartmentnya dia akan sekedar menyempatkan untuk melihat wajah gadis itu dan
menemaninya tidur hingga pagi.
“hai!”
Victoria mendongak. Melihat siapa yang menghampiri dirinya. Zhoumi. Sahabatnya
sejak SMP yang dulu sempat membuat hubungannya dengan Kyuhyun benar-benar
tiada.
“ada
apa denganmu?” tanya Zhoumi sembari memposisikan duduk pada kursi yang berada
di depan meja kerja Victoria.
“kau
tidak memberiku hadiah?” tanya Victoria spontan. Tanpa ada basa-basi
sedikitpun. Namun Zhoumi hanya tersenyum simpul. Dan membuat Victoria
menatapnya aneh.
“karena
kau adalah seorang pengarah fashion kau juga harus memperhatikan fashionmu
sendiri” Zhoumi menyodorkan sebuah kotak kado berukuran cukup besar dengan
motif polkadot hitam putih. Dan di atas kotak itu tertuliskan nama Victoria.
Perlahan gadis itu membukanya. Hidung runcingnya mengambil nafas sejenak
sebelum membuka tutup kotak itu. dan dalam waktu beberapa detik mata bulatnya
terbelalak tak percaya.
“kau
menyukainya?” tanya Zhoumi setelah yakin dengan ekspresi yang Victoria
perlihatkan. Tepat sekali. Sebuah hadiah ulang tahun. Seperangkat alat
pendukung fashion. Mungkin itu adalah sebutan yang paling tepat. Pasalnya,
Zhoumi menghadiahi sebuah cermin dengan figuran kayu berwarna brown autumn, sebuah
sisir dengan gigi-gigi rapat berwarna pearl periwinkle, pita rambut
berwarna soft pink kesukaan Victoria, dan sebotol parfum dengan aroma autumn
rain yang selalu gadis itu sukai.
“kau
memang sahabat yang baik” ujar Victoria yang di akhiri dengan senyuman simpul.
“bagaimana
jika malam ini kita pergi untuk makan malam di luar?” tawar Zhoumi tanpa ada
sedikit keraguan. Awalnya Victoria sudah berniat untuk menerima tawaran itu.
Namun dia mengurungkan niatnya karena mengingat ucapan Kyuhyun tadi pagi.
“aku
akan pulang awal”
“mungkin
lain kali. Aku merasa sedikit lelah setelah berhari-hari pulang larut malam”
gadis itu hanya mencari alasan. Alasan yang logis jika Zhoumi berfikir. Karena
setelah berjalan lebih dari lima bulan, Zhoumi bahkan belum mengetahui bahwa
Victoria kembali untuk mengulang masa lalunya yang hancur.
**
Kyuhyun’s Office
“jadi,
apa yang kau pikirkan tentang ini?” Changmin memperhatikan sebuah kotak
berwarna green autumn yang berada di meja Kyuhyun. Kotak dengan ukuran delapan
kali delapan centimeter itu terbalut dengan kain bludru yang sangat lembut.
Sebuah kotak yang terlihat seperti kotak perhiasan. Namun Kyuhyun bilang itu
bukan kotak perhiasan. Namun hanya sekedar kotak biasa yang dia temukan di laci
meja-nya.
“jika
kau masih saja bertanya, mengapa kau tidak mencoba untuk membukanya?” tanya
Kyuhyun yang sudah merasa terganggu akibat pertanyaan bertubi-tubi dari rekan
bisnisnya itu. Sungguh, entah sudah yang keberapa kalinya, Changmin masih
membahas tentang kotak yang entah asalnya darimana itu. dan Kyuhyun sendiri
yang menemukannya saja, tidak ada niatan sedikitpun untuk membahas benda
berukuran delapan dikali delapan centimeter itu. hingga pada akhirnya, dia
melihat Changmin meraih kotak itu dan membukanya. Sedangkan dia, memilih untuk
kembali pada pekerjaannya yang harus ia selesaikan dengan cepat karena dia
sudah berjanji untuk pulang lebih awal hari ini.
“bukankah
ini sebuah hiasan meja?” tanya Changmin yang sudah mulai membuka suaranya lagi.
Kyuhyun menghela nafasnya kasar. Cukup. Dia memanggil Changmin kemari untuk
membantunya. Bukan untuk mengganggu pekerjaannya yang sungguh, itu semua sudah
sulit.
“bisakah
kau….” Seketika perkataan Kyuhyun terhenti. Kedua matanya terarah pada benda
yang sedang Changmin perhatikan. Pria itu memutar otaknya. Mencoba mengingat
akan sesuatu. Hingga dia menemukan akar dari semuanya. Benar apa yang dikatakan
Changmin. Itu adalah hiasan meja. Dia sangat ingat. Victoria membuat itu
sembilan tahun lalu. Disaat musim gugur. Gadis itu bahkan memahatnya sendiri.
Sebuah hiasan meja berbahan dasar kayu. Kayu pohon maple.
“0203?”
Changmin membuka suaranya lagi. Namun kali ini disertai tatapannya ke-arah
Kyuhyun. Bahkan keningnya berkerut karena rasa ingin tahunya. Dan, tepat
sekali. Ukiran kayu itu membentuk angka 0-2-0-3. Sebuah pertanda hubungannya
dengan Victoria saat itu.
“jika
kau tidak menggunakannya, aku akan membawanya pulang. Ini terlalu indah untuk
di buang” ujar Changmin lagi yang kali ini tengah sibuk memasukkan kembali
hiasan meja tadi kembali ke tempatnya. Baru saja ia akan memasukkannya ke dalam
tas kerjanya, kotak itu sudah lebih dulu terambil oleh tangan Kyuhyun. Dia
menatap Kyuhyun aneh. Tidak mengerti dengan sikap temannya itu.
“tanggal
berapa sekarang?”
“hmmm.
Dua februari. Memangnya mengapa?”
Kini
Kyuhyun melukiskan sebuah senyuman di wajahnya. Sebuah rencana cemerlang
tersusun di otaknya yang selalu bekerja dengan cepat.
**
Kyuhyun’s Apartment
Apa Kyuhyun belum pulang? Bukankah dia bilang akan pulang awal?
Itu
pemikiran Victoria ketika dia mulai melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut
apartment yang hanya mendapat penerangan dari lampu remang yang berada di ruang
tamu. Dia tidak menginginkan ini. Apa ucapan manis Kyuhyun tadi pagi hanya
sekedar ucapan. Tanpa pembuktian pada akhirnya. Gadis itu sadar bahwa Kyuhyun
tidak mungkin merelakan waktunya di kantor untuk pulang ke apartment lebih
awal. Karena Victoria bahkan mengerti bahwa Kyuhyun selalu sibuk tiap detiknya.
Dan dia, akan memaklumi hal itu. Dia memang menginginkan Kyuhyun memiliki
waktunya lebih lama untuk bersama dengannya. Namun, dia tidak pernah sedikitpun
menginginkan Kyuhyun berujar manis dan berbohong padanya. Kecuali, saat ini dia
merubah pikirannya. Ketika suara yang menenangkan mencapai telinganya. Mengungkapkan
sebuah kekecewaan yang terdengar penuh emosi. Dan, sebuah sentuhan hangat di
pinggang rampingnya yang sialnya terasa intim dan hangat.
“jangan
berfikir bahwa aku hanya berujar manis, Qian” itu hanya sebuah kecupan ringan
yang rutin Kyuhyun berikan jika mereka bertemu setelah waktu yang cukup
panjang. Namun, Victoria tetaplah Victoria. Dia belum bisa sekedar menahan
luapan kesenangannya ketika Kyuhyun memberikan kecupan ringan.
“bukan
maksudku ber – “ perkataannya terhenti ketika Kyuhyun mengatakan bahwa dia
tidak ingin melakukan perdebatan diwaktu berharga seperti ini. Dan, gadis itu
akan menerimanya dengan senang hati. Karena dia sadar bahwa ini adalah waktu
yang langka. Bertemu dengan Kyuhyun di malam hari dan menyempatkan mengobrol
atau mungkin makan bersama. Itu hanya suatu hal yang berada di benak Victoria. Atau
mungkin, itu berada di benaknya karena dia menginginkan ucapan “selamat ulang
tahun” dari kekasihnya. Namun, sepertinya Kyuhyun melupakan itu. Sehingga gadis
itu memutuskan untuk melangkah menuju kamar dan mengganti pakaiannya. Dalam
diam. Dia bahkan tidak berniat untuk memanggil Kyuhyun supaya membantunya
menata rambut setelah dia selesai mandi. Itu bukan keadaan yang dia inginkan. Namun,
dia beranggapan bahwa Kyuhyun yang memulai semuanya. Jadi, dia hanya
melanjutkan suasana yang sudah terlanjur diciptakan.
“aku
menawarkanmu. Sebotol wine merah
tahun 1992 untuk malam ini” tangan Victoria yang awalnya tengah sibuk memgang hairdryer untuk mengeringkan rambutnya,
kini bebas dan Kyuhyun menggantikannya. Mengeringkan rambut hitamnya perlahan. Pria
itu mencoba untuk menciptakan suasana senyaman mungkin. Namun, Victoria tidak
tahu modus seperti apa yang kekasihnya itu gunakan saat ini. Karena yang dia
tahu, Kyuhyun terlihat mempesona ketika tangannya dengan telaten mengeringkan
dan merapikan setiap helai rambutnya.
“kotak
dengan motif polkadot. cermin dengan figuran kayu berwarna brown
autumn, sebuah sisir dengan gigi-gigi rapat berwarna pearl periwinkle, pita
rambut berwarna soft pink, dan sebotol parfum dengan aroma autumn
rain. Siapa?” itu hanya
sebuah pertanyaan santai yang Kyuhyun lontarkan karena dia teringat kotak yang
tergeletak di meja ruang tamu. Dan jelas, itu milik Victoria. Terkadang dia
menjadi pria retorik. Jelas, seseorang yang sangat dekat dengan Victoria –
kekasihnya – memberikan itu sebagai hadiah yang sangat special di hari ulang
tahun gadis itu. Dan, Zhoumi adalah orang pertama yang muncul pertama di
pikirannya.
“hanya Zhoumi” jawaban Victoria
jelas sangat meyakinkan. Dan, tepat ketika Kyuhyun selesai merapikan rambutnya.
Pria itu mengecup puncak kepala Victoria lembut. Nyaris seperti kain sutera
dengan harga termahal. Dan setelahnya, manarik gadis itu mengikutinya menuju meja
bar. Meminta Victoria untuk menikmati sebotol wine merah yang tadi
Kyuhyun tawarkan. Dan, Victoria bahkan nyaris tidak berujar hingga tengah malam
tiba. pukul dua belas kurang dua menit.
“Zhoumi memberikan ha – “
perkataannya berhasil terpotong ketika Kyuhyun menyodorkan kotak berwarna autumn
green yang tadi pria itu temukan di kantornya. Tepatnya, di laci mejanya. Gadis
itu awalnya hanya menganga tak mengerti. Namun otaknya menyuruhnya untuk
menggerakkan tangan dan membuka kotak itu.
“aku tidak akan memberi ucapan
selamat padamu. Karena, itu berarti aku senang harimu mulai berkurang di dunia
ini. Jadi, aku hanya ingin mengatakan bahwa, mari kita menjalani ini lebih
serius lagi. Kita berdua Qian” itu
adalah perkataan yang sangat-sangat serius dari seorang Cho Kyuhyun. Dan gadis
itu merutuki dirinya sendiri yang sudah berfikir konyol tentang kekasihnya yang
justru sangat menakjubkan. Dan, nyaris sempurna.
“baiklah. Ini tepat pukul dua
belas. Diantara tanggal dua dan tiga. Bagaimana menurutmu Kyu?”
“dan, kita berada di situasi
yang lebih serius. Membangun kepercayaan” itu adalah bisikan dari Kyuhyun yang
cukup menggelikan di telinga Victoria. Membuat rona merah muncul di permukaan
kulit pucatnya. Dan Kyuhyun meninggalkan sebuah kecupan manis dan hangat di
bibir Victoria. Kecupan yang dia berjanji tidak akan memberikannya kepada gadis
lain. Selain, Victoria yang selalu terlihat menggoda di matanya.