Minggu, 22 November 2015

7 Hours

7 Hours



FanFiction
Author : Park Sang Soon (Umirin Mauludhiah)
Cast : Choi Sulli | Park Chanyeol
Genre : Romance, Fluff
Rated : PG 13+


27 November 2015

Seoul, 06.00

                Seberkas sinar matahari pagi menelusup masuk melalui celah salah satu pintu balkon kaca sebuah apartment sederhana. Dan tanpa belas kasihan, membangunkan seorang gadis dengan kulit pucat-nya yang masih berkutat dibalik selimut abu-abu miliknya. Dia tergerak. Tangannya dengan sedikit malas menyingkirkan selimut yang cukup berat itu. Gadis itu terduduk. Rambut hitam sebahunya tergerai, dan beberapa helaiannya menutupi wajah manisnya. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamar-nya. Sunyi. Tidak ada siapapun disana. Hanya ada barang-barang miliknya yang tergeletak begitu saja. Dan, matanya menangkap sebuah bingkai dengan figura berwarna aqua blue. Otaknya mulai bekerja. Menyalurkan sinyal pada dirinya untuk menciptakan simpulan singkat di bibir tebalnya. Itu kekasihnya.
                Tungkai jenjangnya terhenti seiring dengan tulang duduknya yang dengan nyaman dia ambrukkan di atas sofa cream bludru di ruang tengah apartmentnya. Itu terjadi sejak dua tahun lalu. Ketika kekasihnya memutuskan untuk mengambil pendidikan di luar Korea. Dan berakhir, dia bertahan selama dua tahun tanpa kekasihnya. Menyambut matahari pagi dengan melemparkan pandangan pada foto kekasihnya. Dan menyambut malam dengan ucapan selamat malam yang selalu dia kirimkan pada kekasihnya.
                 “selamat pagi Yeol” bibirnya tergerak ketika mengucapkan sapaan pada sambungan telephone yang dia terima dari kekasihnya. Wajahnya bersemu merah seolah dia benar-benar bertemu dengan kekasihnya.
                “selamat pagi untuk Seoul, dan selamat pagi untuk Choi Sulli” matanya mengerjap ketika suara baritone di seberang sana memberikan sebuah sinyal khusus pada otaknya. Sulli lupa, bahwa kekasihnya berada di Paris. Dan itu berjarak tujuh jam dengan Seoul. Bibirnya terkatup. Dia merutuki dirinya sendiri yang sangat bodoh dan pelupa.
                “Yeol, aku mengulang-nya lagi. Maaf” dia tidak tahu bagaimana kekasihnya akan bereaksi. Seorang Park Chanyeol yang dia kenal memang bukan seorang sentiment atau bahkan pemarah. Hanya saja, perasaannya memberikan kepekaan bahwa dia bersalah. Setelah dua tahun berlalu dan dia melakukan kesalahan yang sama. Disetiap pagi.
                “hei. Jangan rubah nada suaramu hari ini. Cukup dengan suara ringanmu. Aku akan menghubungimu seharian ini” Sulli menciptakan sebuah simpulan hangat di bibirnya. Dia ingin menyampaikan ribuan senyum untuk seorang Park Chanyeol. Hanya saja, tujuh jam adalah jarak yang tidak memungkinkan untuk sekedar menampakkan sekilas senyum. Akun social media mungkin adalah alternative terbaik untuk saling menampakkan rupa. Namun, Sulli belum bodoh hingga melupakan pesan Chanyeol yang menyuruhnya untuk tidak saling bertukar foto sebelum Chanyeol kembali. Dan itu, membuatnya sesak selama dua tahun.
                “kau tidak tidur?” Sulli mendapat focus-nya kembali. Bukankah jarak tujuh jam menandakan bahwa Paris dilanda malam saat ini. Dan Sulli masih tetap menjadi seorang yang bodoh. Karena bahkan dia terjebak dalam suara baritone dan rayuan Chanyeol yang sungguh memabukkan dirinya.
                “aku akan tidur di pagi hari dan menghubungimu di malan hari. Bagaimana dengan 12 jam?” Sulli kembali mengatupkan mulutnya ketika Chanyeol dengan ringannya melontarkan sebuah tawaran yang nyaris terdengar seperti rayuan di telinga seorang Choi Sulli. Tapi itu bukan tawaran. Dia tahu itu sebuah rencana. Atau lebih menjurus pada perayaan.
                “karena hari ini tepat dua tahun kita tidak bertemu?” tungkai jenjangnya yang dia lapisi dengan hot pants berwarna abu-abu sudah berjalan dan terhenti di depan pintu apartmentnya. Tangan kanannya yang bebas mengambil sebuah coat tebal dengan warna tosca. Dan setelahnya melangkahkan tungkainya kembali keluar apartment.
                “katakana padaku bahwa kau lebih dari baik sayang” Sebuah helaan nafas dia hembuskan ketika tungkainya masih sibuk menyusur setiap jalan kota yang di penuhi ribuan manusia dengan kepentingan berebeda. Bukankah kekasihnya sedikit memaksanya. Namun dia menyukai kekasihnya ketika memaksanya untuk berada dalam keadaan baik-baik saja. Menandakan selama dua tahun ini kekasihya selalu menyisipkan seorang Choi Sulli di tiap sel otaknya.
                “jadi, saat ini aku berada di antara ribuan orang yang tidak aku kenal. Dan anehnya, saat ini aku berbalik dan, entahlah Yeol. Aku melihat punggung yang sangat mirip dengan posturmu. Sebuah halusinasi yang hanya terjadi pada orang bodoh sepertinya” dia meringis konyol ketika mendengar kekehan dari seberang telephone. Sulli sadar bahwa perkataannya dengan sukses membuat Chanyeol – mungkin – mengurangi kapasitas rasa cintanya terhadap dia. Namun dia sendiri tidak mengerti mengapa Chanyeol selalu melambung-lambungkan dirinya tanpa ada bekas luka ketika dia terjatuh.
                “jadi, kekasihku adalah seorang yang konyol, bodoh mungkin, dan periang. Ayoalah, aku bahkan harus mengakui bahwa kau lebih menarik ketimbang perempuan dengan sikap dewasa dan penampilan yang mereka anggap luar biasa itu.” sebuah decakan keluar dari bibir tebalnya. Menahan rasa dingin yang merayap seiring bertambahnya waktu. Dia sadar dia mulai mabuk. Dalam artian bahwa dirinya sudah rela diseret oleh Park Chanyeol ke dalam dunia yang berbeda.
                “aku dalam perjalanan pulang. Membawa sebuah tas belanja dengan puluhan makanan di dalamnya. Kau menginginkannya?” gadis itu terlalu puas ketika Chanyeol memujinya. Hingga dia tidak sadar bahwa dia tidak sendiri. Di antara ribuan manusia lainnya yang juga ikut menyusuri setiap jalanan kota. Dan satu di antaranya adalah seorang yang mengawasinya. Tidak pernah jauh dari langkah yang gadis itu ambil sejak keluar dari apartment.
                “bagaimana menurutmu. Jika aku mengganti sarapanku dengan oat meal mulai besok?” Sulli membalikkan tubuhnya ketika nyaris sampai di apartmennya. Dia hanya mengambil beberapa langkah. Mengambil secarik kertas nota yang baru saja tertiup angin.
                “aku tahu kau bercanda. Mengatakan bahwa kau akan makan oat meal itu mustahil. Karena ketika kau selesai makan nasi, kau selalu mengatakan bahwa kau masih lapar. Terkadang kau mengambil jatah makanku. Jadi, mari kita memasak jjajangmyeon hari ini” detik setelah berhasil mengambil kertas notanya Sulli segera mendongak. Dia tidak berhalusinasi. Bukankah seorang Park Chanyeol sedang berdiri di depannya saat ini. Dan, kekasihnya itu sedang mengembangkan senyum. Tangan kanannya terangkat memberikan sebuah sapaan. Sebuah tas belanja. Dengan sebuah label yang sama.
                “kau tidak menyambutku dengan baik” Sulli mengerjap ketika Chanyeol semakin mendekat ke arahnya dan menyejajarkan pandangan mereka.
                “Park Chanyeol” dia tersenyum. Ini semua jelas rencana Chanyeol. Sejak awal dia melihat seorang dengan postur punggung yang sangat mirip dengan kekasihnya. Saat hidugnya menangkap aroma parfum yang berbeda di toko. Dan ketika telinganya dengan samar mendengar suara emosi Chanyeol saat berjalan menuju toko.
                 “Selamat pagi sayang” mereka tidak akan membuat pertemuannya terlalu berlebihan. Hanya sekedar rangkulan hangat di antara ribuan orang yang berlalu-lalang di jalanan kota. Dan membiarkan setiap angin musim dingin menyalami kehadiran mereka yang jelas nyata setelah dua tahun tidak terlihat. Dan sebuah ucapan ulang tahun yang Sulli sampaikan terang-terangan dengan bibir tebalnya. Hal yang memalukan untuk orang lain. Namun menyenangkan untuk seorang Park Chanyeol yang akan selalu memilih Sulli sebagai gadis-nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar