7 Hours
FanFiction
Author : Park Sang Soon (Umirin
Mauludhiah)
Cast : Choi Sulli | Park Chanyeol
Genre : Romance, Fluff
Rated : PG 13+
27 November 2015
Seoul, 06.00
Seberkas
sinar matahari pagi menelusup masuk melalui celah salah satu pintu balkon kaca
sebuah apartment sederhana. Dan tanpa belas kasihan, membangunkan seorang gadis
dengan kulit pucat-nya yang masih berkutat dibalik selimut abu-abu miliknya.
Dia tergerak. Tangannya dengan sedikit malas menyingkirkan selimut yang cukup
berat itu. Gadis itu terduduk. Rambut hitam sebahunya tergerai, dan beberapa
helaiannya menutupi wajah manisnya. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh
sudut kamar-nya. Sunyi. Tidak ada siapapun disana. Hanya ada barang-barang
miliknya yang tergeletak begitu saja. Dan, matanya menangkap sebuah bingkai
dengan figura berwarna aqua blue. Otaknya
mulai bekerja. Menyalurkan sinyal pada dirinya untuk menciptakan simpulan
singkat di bibir tebalnya. Itu kekasihnya.
Tungkai jenjangnya terhenti
seiring dengan tulang duduknya yang dengan nyaman dia ambrukkan di atas sofa cream bludru di ruang tengah apartmentnya.
Itu terjadi sejak dua tahun lalu. Ketika kekasihnya memutuskan untuk mengambil
pendidikan di luar Korea. Dan berakhir, dia bertahan selama dua tahun tanpa
kekasihnya. Menyambut matahari pagi dengan melemparkan pandangan pada foto
kekasihnya. Dan menyambut malam dengan ucapan selamat malam yang selalu dia
kirimkan pada kekasihnya.
“selamat pagi Yeol” bibirnya tergerak
ketika mengucapkan sapaan pada sambungan telephone yang dia terima dari
kekasihnya. Wajahnya bersemu merah seolah dia benar-benar bertemu dengan
kekasihnya.
“selamat pagi untuk Seoul, dan selamat pagi untuk Choi Sulli” matanya
mengerjap ketika suara baritone di seberang sana memberikan sebuah sinyal
khusus pada otaknya. Sulli lupa, bahwa kekasihnya berada di Paris. Dan itu
berjarak tujuh jam dengan Seoul. Bibirnya terkatup. Dia merutuki dirinya
sendiri yang sangat bodoh dan pelupa.
“Yeol, aku mengulang-nya lagi. Maaf”
dia tidak tahu bagaimana kekasihnya akan bereaksi. Seorang Park Chanyeol yang
dia kenal memang bukan seorang sentiment atau bahkan pemarah. Hanya saja,
perasaannya memberikan kepekaan bahwa dia bersalah. Setelah dua tahun berlalu
dan dia melakukan kesalahan yang sama. Disetiap pagi.
“hei. Jangan rubah nada suaramu hari ini. Cukup dengan suara ringanmu. Aku
akan menghubungimu seharian ini” Sulli menciptakan sebuah simpulan hangat
di bibirnya. Dia ingin menyampaikan ribuan senyum untuk seorang Park Chanyeol. Hanya
saja, tujuh jam adalah jarak yang tidak memungkinkan untuk sekedar menampakkan
sekilas senyum. Akun social media mungkin adalah alternative terbaik untuk
saling menampakkan rupa. Namun, Sulli belum bodoh hingga melupakan pesan
Chanyeol yang menyuruhnya untuk tidak saling bertukar foto sebelum Chanyeol
kembali. Dan itu, membuatnya sesak selama dua tahun.
“kau tidak tidur?” Sulli
mendapat focus-nya kembali. Bukankah jarak tujuh jam menandakan bahwa Paris
dilanda malam saat ini. Dan Sulli masih tetap menjadi seorang yang bodoh. Karena
bahkan dia terjebak dalam suara baritone dan rayuan Chanyeol yang sungguh
memabukkan dirinya.
“aku akan tidur di pagi hari dan menghubungimu di malan hari. Bagaimana
dengan 12 jam?” Sulli kembali mengatupkan mulutnya ketika Chanyeol dengan
ringannya melontarkan sebuah tawaran yang nyaris terdengar seperti rayuan di
telinga seorang Choi Sulli. Tapi itu bukan tawaran. Dia tahu itu sebuah
rencana. Atau lebih menjurus pada perayaan.
“karena hari ini tepat dua tahun
kita tidak bertemu?” tungkai jenjangnya yang dia lapisi dengan hot pants berwarna abu-abu sudah berjalan
dan terhenti di depan pintu apartmentnya. Tangan kanannya yang bebas mengambil
sebuah coat tebal dengan warna tosca. Dan setelahnya melangkahkan
tungkainya kembali keluar apartment.
“katakana padaku bahwa kau lebih dari baik sayang” Sebuah helaan
nafas dia hembuskan ketika tungkainya masih sibuk menyusur setiap jalan kota
yang di penuhi ribuan manusia dengan kepentingan berebeda. Bukankah kekasihnya
sedikit memaksanya. Namun dia menyukai kekasihnya ketika memaksanya untuk
berada dalam keadaan baik-baik saja. Menandakan selama dua tahun ini kekasihya
selalu menyisipkan seorang Choi Sulli di tiap sel otaknya.
“jadi, saat ini aku berada di
antara ribuan orang yang tidak aku kenal. Dan anehnya, saat ini aku berbalik
dan, entahlah Yeol. Aku melihat punggung yang sangat mirip dengan posturmu. Sebuah
halusinasi yang hanya terjadi pada orang bodoh sepertinya” dia meringis konyol
ketika mendengar kekehan dari seberang telephone. Sulli sadar bahwa
perkataannya dengan sukses membuat Chanyeol – mungkin – mengurangi kapasitas
rasa cintanya terhadap dia. Namun dia sendiri tidak mengerti mengapa Chanyeol
selalu melambung-lambungkan dirinya tanpa ada bekas luka ketika dia terjatuh.
“jadi, kekasihku adalah seorang yang konyol, bodoh mungkin, dan
periang. Ayoalah, aku bahkan harus mengakui bahwa kau lebih menarik ketimbang
perempuan dengan sikap dewasa dan penampilan yang mereka anggap luar biasa itu.”
sebuah decakan keluar dari bibir tebalnya. Menahan rasa dingin yang merayap
seiring bertambahnya waktu. Dia sadar dia mulai mabuk. Dalam artian bahwa
dirinya sudah rela diseret oleh Park Chanyeol ke dalam dunia yang berbeda.
“aku dalam perjalanan pulang. Membawa
sebuah tas belanja dengan puluhan makanan di dalamnya. Kau menginginkannya?” gadis
itu terlalu puas ketika Chanyeol memujinya. Hingga dia tidak sadar bahwa dia
tidak sendiri. Di antara ribuan manusia lainnya yang juga ikut menyusuri setiap
jalanan kota. Dan satu di antaranya adalah seorang yang mengawasinya. Tidak pernah
jauh dari langkah yang gadis itu ambil sejak keluar dari apartment.
“bagaimana menurutmu. Jika aku
mengganti sarapanku dengan oat meal mulai
besok?” Sulli membalikkan tubuhnya ketika nyaris sampai di apartmennya. Dia
hanya mengambil beberapa langkah. Mengambil secarik kertas nota yang baru saja
tertiup angin.
“aku tahu kau bercanda. Mengatakan bahwa kau akan makan oat meal itu mustahil. Karena ketika kau selesai
makan nasi, kau selalu mengatakan bahwa kau masih lapar. Terkadang kau
mengambil jatah makanku. Jadi, mari kita memasak jjajangmyeon hari ini” detik setelah berhasil
mengambil kertas notanya Sulli segera mendongak. Dia tidak berhalusinasi. Bukankah
seorang Park Chanyeol sedang berdiri di depannya saat ini. Dan, kekasihnya itu sedang
mengembangkan senyum. Tangan kanannya terangkat memberikan sebuah sapaan. Sebuah
tas belanja. Dengan sebuah label yang sama.
“kau tidak menyambutku dengan
baik” Sulli mengerjap ketika Chanyeol semakin mendekat ke arahnya dan
menyejajarkan pandangan mereka.
“Park Chanyeol” dia tersenyum.
Ini semua jelas rencana Chanyeol. Sejak awal dia melihat seorang dengan postur
punggung yang sangat mirip dengan kekasihnya. Saat hidugnya menangkap aroma
parfum yang berbeda di toko. Dan ketika telinganya dengan samar mendengar suara
emosi Chanyeol saat berjalan menuju toko.
“Selamat pagi sayang” mereka tidak akan
membuat pertemuannya terlalu berlebihan. Hanya sekedar rangkulan hangat di
antara ribuan orang yang berlalu-lalang di jalanan kota. Dan membiarkan setiap
angin musim dingin menyalami kehadiran mereka yang jelas nyata setelah dua
tahun tidak terlihat. Dan sebuah ucapan ulang tahun yang Sulli sampaikan
terang-terangan dengan bibir tebalnya. Hal yang memalukan untuk orang lain. Namun
menyenangkan untuk seorang Park Chanyeol yang akan selalu memilih Sulli sebagai
gadis-nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar